Enam Anak Usaha WIKA Melantai di Bursa hingga 2023

CNN Indonesia | Kamis, 14/03/2019

Jakarta, CNN Indonesia — PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) menargetkan bisa mengantarkan enam anak usahanya untuk melantai di Bursa Efek Indonesia hingga 2023. Hal itu dilakukan untuk mencapai target pertumbuhan ekuitas dari Rp17,1 triliun pada 2018 (unaudited) menjadi Rp63 triliun pada 2023.

“Di roadmap kami memang ada beberapa anak usaha kami yang direncanakan melakukan penawaran saham perdana (IPO),” ujar General Manager, System Development WIKA Novias Nurendra saat menghadiri Seminar Nasional Prospek BUMN di Tahun Politik di Jakarta, Rabu (13/3).

Novias mengungkapkan perseroan telah memiliki dua anak usaha yang telah menjadi perusahaan publik yaitu PT Wika Industri Konstruksi Tbk dan PT WIKA Gedung Tbk.

Rencananya, tahun ini dua anak perusahaan PT Wika Realty dan PT Wijaya Karya Industri Konstruksi (Wika Industri Konstruksi) akan IPO dengan target raupan dana masing-masing Rp2,5 triliun dan Rp1,6 triliun.

 

Tahun depan, WIKA menargetkan IPO PT Wika Bitumen dengan target raupan dana Rp1,5 triliun.

Pada 2021, giliran PT WIKA Rekayasa Konstruksi yang akan IPO dengan target raupan dana Rp1 triliun.

Selanjutnya, pada 2022, WIKA ingin anak usaha yang bergerak di bidang infrastruktur untuk melantai di bursa. Target raupan dananya sebesar Rp2 triliun.

Terakhir, pada 2023, perusahaan ingin menawarkan saham perdana untuk anak usahanya yang bergerak di sektor pembangkit listrik untuk mendapatkan modal sebesar Rp1,5 triliun.

 

“Skema pendanaan kami atur sehingga masing-masing anak usaha kami IPO-kan,” ujarnya.

Berdasarkan paparan Novias, perusahaan tahun lalu mencetak laba (unaudited) Rp2,03 triliun atau tumbuh sekitar 49,26 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,36 triliun.

Kenaikan laba tersebut terjadi seiring pertumbuhan pendapatan sebesar 50,8 persen menjadi Rp39,48 triliun.

Tahun ini, perusahaan menargetkan bisa meraup laba Rp3,01 triliun atau tumbuh 48,27 persen dibandingkan tahun ini.

 

Secara terpisah, Direktur Pelaksana Lembaga Manajemen (LM) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menilai perusahaan pelat merah yang berstatus Tbk cenderung memiliki kinerja yang baik. Pasalnya, manajemen mendapatkan tekanan dari investor untuk menjaga nilai saham dengan cara meningkatkan kinerjanya.

“Mungkin kalau lebih banyak BUMN yang go public akan banyak perbaikan yang lebih baik,” ujarnya.

[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)

 

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190313162043-92-376933/enam-anak-usaha-wika-melantai-di-bursa-hingga-2023