Penguatan Sektor Properti Bisa Bantu RI Lawan ‘Amukan’ Dolar AS

Jakarta – Laju dolar Amerika Serikat (AS) masih menjadi sorotan. Meski mulai jinak, namun posisinya masih terpantau tinggi di Rp 14.880 dibanding posisi tertinggi yang sempat menyentuh Rp 14.999.

Laju dolar AS sebagian besar masih dipengaruhi faktor eksternal terutama disebabkan ketidakpastian global yang diperparah dengan adanya kabar krisis di sejumlah negara seperti Turki hingga Venezuela.

Meski demikian, bukan berarti RI tak bisa berbuat apa-apa untuk menanggulangi kondisi tersebut.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Maryono menjelaskan, penguatan sektor rill bisa jadi jawaban bagi Indonesia untuk melawan ketidak pastian global tersebut.

“Jika sektor riilnya berkembang maka akan ada suatu pergerakan ekonomi dan bisa mendorong pertumbuhan secara tidak langsung,” jelas Maryono, Jumat (7/9/2018).

Sektor rill yang dimaksud, salah satunya adalah sektor properti. Di mana, ada sekitar 117 industri yang ikut terlibat di sektor properti ini dari mulai industri bahan bangunan hingga jasa konstruksi.

Untuk itu, perseroan akan mendorong pertumbuhan KPR sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

“Jadi kalau bisnis properti naik, maka semua akan ikut terdorong naik,” jelasnya.

Maryono mengungkapkan, permintaan kredit saat ini masih cukup bagus, terutama untuk KPR Subsidi. Karena rumah merupakan kebutuhan pokok, permintaan KPR Subsidi diberbagai daerah sangat tinggi.

“Kalau rumah menengah atas memang ada koreksi, tetapi BTN mayoritas di KPR Subsidi jadi tidak mengganggu kinerja perseroan. Secara umum KPR growth sekitar 19%,” tegasnya.

Mengenai pelemahan rupiah yang terjadi, Maryono menegaskan, hal tersebut tidak berdampak pada bisnis BTN. Pasalnya, outstanding perseroan semuanya dalam bentuk rupiah.

“BTN ini gak ada pengaruh karena semua outstanding kita rupiah dan dana kita sebagian besar hampir 100 persen adalah rupiah, jadi gak ada dampak secara langsung,” kata Maryono.

Maryono menuturkan, selain didukung permintaan KPR Subsidi yang tinggi, kinerja BTN juga diuntungkan dengan relaksasi aturan uang muka atau Loan to Value (LTV).

“Dengan berbagai stimulus tersebut serta kesiapan Bank BTN menggarap berbagai peluang bisnis yang ada, kami meyakini akan tetap mencatatkan realisasi kinerja bisnis sesuai target yang telah ditetapkan sejak awal tahun,” jelas Maryono.

Sementara itu dihubungi terpisah, Kepala Ekonom BCA David Samual menilai kinerja perbankan nasional masih tangguh di tengah tekanan pasar keuangan yang terjadi saat ini. Bank-bank papan atas di Tanah Air diproyeksikan masih mampu membukukan pertumbuhan kredit double digit meski tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya.

“Kredit mungkin saja bisa menyentuh hingga 12% [pada akhir 2018], tapi memang untuk (penghimpunan) dana masih agak berat karena masih ada tekanan eksternal,” jelas David.

https://finance.detik.com/properti/d-4201997/penguatan-sektor-properti-bisa-bantu-ri-lawan-amukan-dolar-as